1) Landasan filosofis
Konsep model pendidikan teknologis secara filosofis mirip dengan model pendidikan klasikal, yaitu bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan itu hendaknya merupakan suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil karya pendidikan. Dengan demikian, maka dalam konteks masyarakat yang lebih luas, titik berat penekanannya ditujukn kepada dimensi-dimensi, kecenderungan-kecenderungan untuk timbulnya masyarakat teknologi. Pendidikan adalah modifikasi dari perilaku yang dicapai melalui aplikasi kondisi yang diperkuat melalui peralatan teknologi. Isi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan dengan dukungan teknologi. Secara esensial mesin pengajaran menggantikan peranan guru, dan siswa berperan sebagai trainee yang mempelajari semua data serta keterampilan yang berguna bagi jabatan atau kedudukannya dibidang teknologi dimasa yang akan datang. Bantuan-bantuan teknologis kepada manusia, memungkinkan manusia memahami tumbuhnya masyarakat teknologis yang sangat kompleks. Teknologi dipandang sebagai suatu alat atau sarana yang bebas nilai, bisa dipakai untuk kesejahteraan, atau sebaliknya bisaa juga digunakan untuk kebinasaan. Dalam proses belajar mengajar, modelpendidikan teknologis lebih menitik beratkan kemampuan siswa secara individual diman materi pelajaran disusun ditingkat kesiapan sehingga siswa mampu mempertunjukkan perilaku tertentu yang diharapkan. Dengan model ini guru berdiri dibelakang layar sepanjang mesin pengajaran bisa berbuat banyak, efisien dan akurat dalam menangani pelbagai tugas yang komplek. Guru dapat berlepas tangan dari pembentukkan dimensi-dimensi non kognitif para siswanya. Disamping itu guru juga dapat terlepas dari tugasnya sebagai pemberi informasi semata-mata kareena sudah diambil alih peranannya oleh hardware seperti OHP, slides suara, films, TV, teaching machine dll. Sementara itu materi pelajaran dipilih oleh para ahli bidang studi yang berisi rangkaian butir tujuan pengajaran dan keterampilan berperilaku menuju kearah kemampuan-kemampuan siswa yang bersifat kejuruan.
2) Landasan sosiologis
Pesatnya penggunaan teknologi didalam pendidikan pada tahun 1950an sesungguhnya merupakan akibat munculnya dua factor yaitu pertama-tama timbulnya kepercayaan terhadap iomu pengetahuan sebagai cara untuk memperbaiki mutu kehidupan, kedua terjadinya ledakan penduduk usia sekolah. Tantangan tersebut segera memperoleh jawaban dari dunia perekonomian dengan menciptakan pelbagai perangkat keras sebagai tujuan teknologis yang dirancang untuk tujuan pengajaran yang lebihefektif serta ekonomis. Proses belajar mengajar dilihat dari sudut pandang komunikasi tidak lain adalah proses penyampaian pesan, gagasan, fakta , makna, konsep, data yang sengaja dirancang sehingga dapat diterima oleh penerima pesan atau komunikan. Guru sebagai komunikator menyampaikan pelajaran sebagai pesan kepada siswa-siswa sebagai komunikan. Selama komunikasi itu berjalan, terjadilah proses psikologis dimana terjadi kegiatan saling mempengaruhi diantara komunikator dan komunikan. Inilah yang lazim disebut interaksi.
3) Landasan psikologis
Teknologi pengajaran sebagai upaya membantu siswa dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran didasarkan atas psikologi. Diatara cabang-cabang psikologi yang paling erat kaitannya dengan teknologi pengajaran adalah psikologi belajar. Hal ini tidak berarti bahwa cabang psikologi lainnya seperti psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, dan psikoogi sosial, tidk penting namun dengan kontribusi cabang psikologi tersebut tidak sekuat psikologi belajar. Dengan perkataan lain, teori pengajaran bersumber dari teori belajar. Teknologi pengajaran pada hakikatnya adalah teori pengajaran seperti halnya teori kurikulum , teori administrasi pendidikan, teori bimbingan penyuluhan, teori penilaian dll. Itulah sebabnya salah satu diantar landasan teori pengajaran atau teknologi pengajaran adalah psikologi belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar